0

Saya tidak Pernah Jadi Budak

May 15th, 2012 / / categories: Kronik PAT /

Saya tidak Pernah Jadi Budak

Tempo NO. 04/XXVIII/30 Mar – 5 Apr 1999

 

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

PRAMOEDYA Ananta Toer, sastrawan terkemuka asal Blora, itu banyak menghabiskan hidupnya di penjara. Pada zaman revolusi kemerdekaan, ia mendekam di penjara Bukitduri, Jakarta, dan baru bebas merdeka pada 1949.

Pada masa Orde Lama, ia menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Cina, dan akibatnya ia masuk lagi ke ”hotel prodeo”. Setelah pecah G30S-PKI, Pram yang anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat-onderbouw Partai Komunis Indonesia-ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru sampai tahun 1979. Siksaan dan kekerasan adalah bagian hari-harinya di tahanan. Setelah bebas pun, Pram masih menjalani wajib lapor setiap minggu di instansi militer. Belum lama ini, Pram membuat kejutan: bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Baginya, hanya ”partai anak muda” itu yang dipercayainya. Ia tak ragu mencalonkan Ketua PRD, Budiman Sudjatmiko, sebagai presiden. ”Dia punya kelebihan dibandingkan dengan Soekarno,” kata kakek 15 cucu berusia 74 tahun ini. Awal April nanti, untuk pertama kalinya sejak 1959, Pram akan berkeliling Amerika Serikat untuk meluncurkan edisi berbahasa Inggris buku Cerita dari Jakarta yang ditulisnya pada 1957. Pram akan menjadi tamu penting berbagai universitas, seperti Berkeley dan George Washington University. Dalam tur sepanjang dua bulan ini, Pram juga mengunjungi beberapa negara di Eropa. Itu kalau ia tak kena cekal di bandara. Berikut ini petikan wawancara wartawan TEMPO Mustafa Ismail, Mardiyah Chamim, Arif Zulkifli, dan fotografer Robin Ong dengan Pramoedya, di rumah Pram yang nyaman di Utankayu, Jakarta Timur.

Anda resmi bergabung dengan PRD. Apakah ada alasan khusus?

Saya percaya pada angkatan muda. Di kantong mereka tidak ada duit korupsi dan tangan mereka tidak berlumuran darah pembantaian, tidak pernah menculik. Mereka hanya punya kemauan baik untuk Tanah Air.

Bagaimana awal mula Anda bergabung dengan PRD?

Awalnya, saya menerima penghargaan hak asasi manusia dari PRD pada 1996. Rupanya, ini berbuntut panjang. Budiman Sudjatmiko ditangkap. Saya diinterogasi Kejaksaan. Pertanyaannya, kenapa Pak Pram menerima penghargaan dari PRD? Saya jawab, daripada menerima penindasan dari tuan-tuan selama 30 tahun, lebih baik saya terima penghargaan ini. Waktu Budiman dipenjara dan PRD ditindas, saya ngomong di depan pertemuan PRD. Saya minta dibolehkan menjadi anggota PRD.
Apa target Anda bergabung dengan PRD?

Sokongan moral saja. Saya tidak mendikte program mereka. Kalau saya cawe-cawe, nanti dipandang aneh, kakek-kakek kok masuk partai anak muda. (more…)

Wawancara Pramoedya dan Hersri Setiawan dengan Radio Nederland

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Bagian awal aria “Ritorna Vincitor” atau “Pulanglah dengan Kemenangan” dari opera “Aida” ciptaan ciptaan Giuseppe Verdi tadi, menghantar kita pada rubrik yang mungkin sudah anda nanti-nanti dalam acara FOKUS AKHIR PEKAN Radio Nederland edisi 22 Juli 1997 ini, itulah rubrik wawancara. Hari Rabu lalu dari Manila diberitakan bahwa penulis Indonesia yang buku-bukunya terlarang, Pramoedya Ananta Toer telah dianugerahi hadiah Ramon Magsaysay.Karya-karya terlarang Pramoedya itu, yang merupakan alasan pemberian hadiah ini, dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman moderen rakyat Indonesia. Lalu, bagaimana reaksi Pramoedya terhadap penganugerahan ini?

Pramoedya Ananta Toer=PAT: Tentu saja saya bergembira, karena ada yang menghargai apa yang telah saya kerjakan. Apalagi kalau dibandingkan dengan banyaknya fitnah, pelecehan dan sebagainya, selama 30 tahun Orde Baru ini. Jadi, merupakan suatu obat yang menyegarkan.

Radio Nederland=RN: Nampaknya ada juga orang-orang yang kecewa mungkin, karena kan Bapak sekarang disejajarkan dengan Soedjatmoko, Mochtar Lubis, Ibu Nasution dan Pak Ali Sadikin, kalau tidak salah, yang juga mendapat hadiah Magsaysay tersebut. Bagaimana tanggapan Bapak mengenai hal ini?

PAT: Itu masalah individual mereka masing-masing. Kalau ada yang tidak suka, saya tidak mengganggu ketidaksukaannya itu, terserah saja.

RB: Tetapi kira-kira menurut Bapak, apa pengaruhnya ini secara internasional. Sebab ada yang juga mengatakan bahwa ini sebenarnya kan bisa memacu sehingga negara-negara lain juga memberikan hadiah atau award yang sama kepada Bapak?

PAT: Ya, itu terserah pada penghargaan dunia internasional. Cuma saja yang terlihat oleh saya dengan penghargaan yan saya terima, itu mengembangkan demokratisasi kehidupan di negara-negara totaliter di Asia. Dan trendnya itu sudah kelihatan. Yaitu pertama perujukan Vietnam Amerika, kemudian disambung oleh bebasnya Aung San Suu Kyi. Ya, saya harap perkembangan demokratisasi kehidupan makin meriah.

RN: Nampaknya kan dalam bulan-bulan ini Vietnam juga akan bergabung dengan ASEAN, dan Burma juga diharapkan demikian. Bagaimana pendapat Bapak mengenai gabungan negara-negara di Asia Tenggara ini yang pada awalnya kebanyakan adalah negara-negara yang tidak demokratis?

PAT: Ya, saya menyambut baik progres demokratisasi ini. Sebab, sebab ya, orang itu dilahirkan bukan untuk ditindas dan bukan untuk diberangus. Biarlah manusia itu hidup dengan harkatnya sebagai manusia. Kan itu lebih baik daripada menjadi hewan yang harus menjalankan perintah tanpa persetujuannya sendiri.

RN: Tapi sudah tentu kalau negara-negara Asia Tenggara ini bisa bersatu dari segi ketahanan dari segi pembangunan ekonominya akan lebih baik kalau semuanya bisa bekerja sama. Tapi dalam rangka kerjasama rakyat dan rakyat Pak, bagaimana pendapat Bapak kalau semua para mantan Tapol se Asia Tenggara bisa mengadakan suatu seminar bersama misalnya?

PAT: Saya menyambut baik saja kalau mislnya semua Tapol, bekas Tapol bertemu dan mencari jalan yang terbaik, bisa memberikan saran yang terbaik untuk kehidupan bersama umat manusia. Mereka yang mengalami penderitaan, mungkin tanpa pengadilan, tanpa tuduhan bisa merumuskan.

RN: Berbicara mengenai Tapol, Pak, Menteri Kehakiman Oetojo Usman mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan istilah Tapol. Dia lebih menyukai istilah narapidana yang melawan kekuasaan pemerintah, begitu?

PAT: Jadi, narapidana yang melawan kekuasaan pemerintah itu, artinya yang melawan kekuasaan pemerintah Sukarno?

RN: Ya, maksudnya tapol saat ini, untuk saat ini katanya, tidak setuju kalau digunakan istilah tapol.

PAT: Ya itu persoalan politik, artinya persoalan tahanan politik. Dan kalau mereka itu memang salah, ya adililah. Jangan ditahan-tahan sampai mati, umurnya 94 tahun segala macam. Kalau itu toh terjadi, ya enggak perlu ada Pancasila toh. Negara-negara lain enggak punya Pancasila bisa membebaskan. Bisa kasih amnesti, bisa kasih grasi. Ini yang punya Pancasila kok enggak bisa? Apa ini adanya di planet lain, tanah air kita?

RN: Ya, akhir-akhir ini banyak dibicarakan mengenai masalah tahanan-tahanan yang sudah tua renta yang sakit-sakitan yang masih ada di penjara-penjara. Selama satu tahun saja ini saja sudah ada tiga orang yang meninggal, diantaranya di Ujung Pandang Haji Kamba yang berumur 94 tahun. Apa tanggapan Bapak mengenai hal ini?

PAT: Itulah, yang menolak pembebasan mereka, orang tua-tua ini, seakan-akan dia tidak punya keluarga, seakan-akan dia tidak punya tetangga, seakan-akan dia tidak punya orang tua, lahir dari batu. Itu sudah luar biasa. Dan setiap hari mengagungkan Pancasila. Saya tidak mengerti. Makin lama makin tidak mengerti saya keadaan ini. (more…)

0

Multatuli: Sebuah Kenangan

May 15th, 2012 / / categories: Kronik PAT /

Multatuli: Sebuah Kenangan

Oleh: Pramoedya Ananta-Toer

Eduard Douwes Dekker

Eduard Douwes Dekker

Multatuli? Ya, kapan nama itu pernah kudengar? Jauh di masa lewat. Semasa kanak-kanak. Aneh kedengarannya.

Tapi kombinasi bunyi dalam namanya membuat aku terus teringat. Soalnya bukan sekali-dua disebut-sebut di rumah oleh para pemuda yang sering datang berkumpul, bermain, dan berdiskusi. Lebih dari namanya yang aneh aku tak tahu sesuatu.

Di rumah kami terdapat perpustakaan yang cukup besar, untuk ukuran kota kecil, dalam keadaan tak terawat, bahkan selalu berantakan. Ayahku, seorang pemilik akte untuk mengajar bahasa Belanda tingkat sekolah rendah, suka memborong buku dan majalah dari rumah para pejabat Belanda yang dilelang barang-barangnya menghadapi kepindahan. Dia tidak pernah mendongeng padaku tentang Multatuli, biar pun dalam perpustakaan terdapat beberapa jilid karyanya. Ibuku, yang menelan buku Belanda dan Melayu – ia tidak membaca Jawa – juga tidak pernah.

Awal tahun 1930-an rumah kami menjadi pusat kegiatan para nasionalis kiri non-koperator. Para pemuda yang berbakat melukis muali membikin lukisan dengan cat, dijajarkan sepanjang dinding rumah. Setiap di antara kanak-kanak dapat membaca nama-nama di bawahnya: Rasuna Said, Diponegoro, Alibasah Sentot Prawirodirjo, Soekarno, Sartono, Gatot Mangkupraja, Iwa Kusumasumantri, Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo.

Tapi Multatuli? Tidak melalui lukisan, juga tidak melalui dongengan di rumah. Di tempat lain aku diperkenalkan kepadanya.

Masih awal tahun 1930-an itu, KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia) tempat kami mengangkat aku jadi wakil ketua regu nomor kesekian. Bukan karena ada prestasiku dalam kepanduan. Hanya karena ayahku seorang tetua KBI yang dengan beberapa orang lainnya, dalam suatu malam api unggun telah melakukan sumpah sambil memegangi ujung sang merah-putih. Atau hanya karena ayahku seorang non-koperator sejak 1923.

Sebagai wakil kepala regu setiap Rabu sore kami harus berkumpul di suatu ruangan sekolah Budi Utomo untuk mendapat bimbingan. Didongengkan tentang riwayat gambar-gambar di rumah. Ditambah dua nama lagi: S.K. Trimurti, yang juga sering diceritakan oleh ibuku. Dan: Multatuli. Begitu tahu orang yang bernama Multatuli itu orang Belanda dan pejabat tinggi pangreh praja pula aku terperangah dan mengambil sikap. Tidak lagi sebagai anak didik yang patah, sudah jadi opposan. Ya, sebelum lagi aku dilahirkan udara rumah kami telah dibuntingi oleh kebencian terhadap penjajahan. Segala yang buruk, keji, biadab, berasal dari penjajahan. Belandalah wakil penjajahan itu. Secara langsung atau tidak orangtuaku mengajar kami membencinya. Kami muak pada serdadu kolonial, kami jijik terhadap polisinya, dan kami memandang rendah pegawai-negerinya.

Mana mungkin ada orang Belanda yang baik? Beberapa kali kulihat sendiri seorang polisi Belanda menendangi para penjual dan bakulnya yang menjual barang-barangnya di luar pasar. Hanya karena menghindari pajak pasar. Berapa harga dagangannya? Paling banyak senilai duapuluh lima sen. Dendam itu kami lepaskan berdua waktu memapasi seorang agen polisi yang masih muda berkendara sepeda seorang diri di jalanan senyap siang hari. Berdua kami melemparinya dengan batu dan menyumpahi: anjing! khianat! kemudian hambur melarikan diri menuruni jalan kecil tebing sungai yang tak mungkin bisa tersusul dengan sepedanya.

Pada hari-hari tertentu serombongan polisi lapangan (veld-politie) dengan bedilnya melalui depan rumah kami untuk pergi ke luar kota latihan menembak. Sudah kutaksir pohon kapok tetangga untuk memasang ujung tali. Bila rombongan polisi lapangan lewat, ujung tali dari seberang jalan akan kuratik. Mereka akan melanggarnya dan akan jatuh susun-tindih bergelimpangan. Sayang mereka hanya berangkat pagi bila latihan, tak pernah malam. Rencana itu tak pernah terlaksana.

Pernah kusaksikan sendiri seorang mantri polisi datang ke sekolah dan merampas buku-buku karangan ayahku. Pernah kulihat sendiri bagaimana pegawai-pegawai pajak mengangkuti perabot rumah yang terbagus dari rumah kami, sehingga yang tinggal hanya barang-barang buruk dan perasaan tersinggung telah dipermalukan di depan umum.

Semua sumbernya tak lain dari kekuasaan Belanda. Mulatuli? Orang Belanda? Dia takkan lebih dari yang lain-lain. Dan tidak lain dari ayahku sendiri yang di sekolah menceritakan bagaimana Diponegoro ditipu oleh Jendral de Kock, diundang berunding, tapi kenyataannya ditangkap dan dibuang.

Hari-hari riuh itu padam. Tak ada lukisan-lukisan, tak ada nyanyian mengagungkan Indonesia Raya, tak ada suara bersama menyambut terbitnya bangsa baru di timur. Apalagi Multatuli. Tak ada yang menyebut-nyebutnya lagi.

Dalam perayaan tahunan sekolahan sekarang muncul hanya satu lukisan: Pak Tom. Dr. Soetomo. Ya, sekolahan kami memang didirikan olehnya pada 1918, ia meninggalkan bangunan dua kelas sebelum dikembangkan oleh ayaku menjadi 7 kelas. Dalam tahun-tahun tenang itu, aku sudah duduk di kelas 6, beberapa guru tertentu memberikan pengetahuan umum ekstra kurikuler di sorehari. Di antaranya tentang Multatuli. Tentu saja tentang peristiwa Lebak. Tentu saja tentang Saija dan Adinda. Sementara itu sejumlah orang muda di kota kami mempelajari bahasa Jepang melalui diktat stensilan yang dikeluarkan oleh Instituut Ksatrian, Bandung, yang dipimpin oleh E.F.E. Douwes Dekker. Rupa-rupanya masa ini dipertautkan nama Multatuli, E. Douwes Dekker, dengan E.F.E. Douwes Dekker oleh diktat tersebut. Dan pengembaraan nama Multatuli menjadi semakin luas. (more…)

0

Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun

May 15th, 2012 / / categories: Kronik PAT /

Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun

Bintang Timur, 10 Aug, 1 Sept, 7 Sept, 12 Okt 1962

Pramoedya Ananta-Toer

 

Tahun 1953, atau 10 th. jl, merupakan perkisaran jang penting terutama dalam dunia sastra Indonesia. Pada th. itu nampak benar berapa galangan jang dengan penuh kesabaran dibangunkan oleh Sticusa, bagian demi bagian mulai berhasil. Pemerintah Belanda jang mulai ragu2 tentu manfaat kerdja Sticusa bagi keuntungan keuangan diwaktu dekat mendatang dengan gopahgapah hendak menarik djatah dana dari Dana Bernhard ke pada Sticusa. Sebaliknja, Sticusa, jang dipimpin oleh para bekas residen atau asisten residen serta orang2 dari bekas kabinet van Mook, mengerti benar, bahwa ikatan- batin dengan golongan intelektual Indonesia harus dipelihara dan diselamatkan, buat menjelamatkan hubungan ekonomi dan djuga politik dengan negeri bekas djadjahan, jang dalam keadaan bagaimanapun harus tetap bisa memberikan keuntungan moril dan materiil bagi Belanda.

Begitulah untuk menundjukkan manfaat Sticusa, untuk membuktikan, bahwa hubungan kultural merupakan bagian penting dalam mempertahankan dominasi ekonomi dan politik atas negeri bekas djadjahannja, pada bulan Djuli 1953 Sticusa dengan gerak tjepat telah menjelenggarakan Simposion Sastra Modern Indonesia. Kesengadjaan dari Simposion ini benar2 mengagumkan. Undangan bukan sadja terbatas pada para sardjana dan seniman Belanda, djuga sardjana2 Inggris, Djerman, Australia, Amerika dan Indonesia tentu.

Dengan demikian, Simposion Sastra Modern Indonesia jang pertama-tama, bukan hanja tidak berlangsung di Indonesia, djuga mempunjai forum jang sedikit-banjaknja bersifat internasional. Daja penarik Simposion jang mendapat sukses gilang gemilang ialah “rijst-tafel” atau “makanan Indonesia,” dan Simposion berlaku dari pagi2 sampai matari Belanda hilang samasekali dari langit Eropa.

Besoknja seluruh pers Belanda, dan beberapa pers Eropa diluar Nederland, memberitakan laporan2 dari Simposion ini, dan Sticusa “terpaksa” tidak dirubuhkan oleh pemerintah Belanda.

Pers Indonesia djuga banjak memberitakan peristiwa ini. Bahkan setahun kemudian Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UI mau tak mau harus djuga bergerak menjeleggarakan Simposion Sastra pula.

Simposion Sastra pertama jang berlangsung di Nederland ini mengandung unsur2 bagi perkembangan sastrawan dan sastra Indonesia sesudah itu. Disinilah sardjana hukum Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan, bahwa “Revolusi telah menjebabkan manusia modern Indonesia menginsafi, bahwa kemerdekaan jang telah diperdjuangkannja dengan bersemangat itu pada hakikatnja membuatnja lebih melarat, karena ia telah kehilangan segala2nja…” (dan dalam situasi kehilangan semua2nja ini pembitjara itu sendiri, telah berhasil mengeduk keuntungan berlimpah sampai dapat meningkatkan djumlah miljuner nasional dengan dirinja sendiri). Andil Takdir kepada Revolusi memang meragukan, sekalipun ia anggota KNIP dari sajap PSI, seorang kapitalis jang bitjara atas nama sosialis. Pada waktu itu Takdir masih sangat berpengaruh karena djasa2nja sebelum pendudukan Djepang, baik dilapangan kebudajaan pada umumnja maupun dilapangan sastra pada chususnja terutama dibidang pengadjaran-sastra jang selamanja ketinggalan dari perkembangan sastra itu sendiri. Benar waktu itu telah timbul djuga Angkatan 45 jang menolak Takdir, tapi masarakat sastra sendiri masih kurang kritik. Dan benar sekali, bahwa dalam simposion ini Asrul Sani sebagai wakil Angkatan 45 djuga angkat bitjara, tapi Angkatan Pudjangga Baru jang disini diwakili oleh Takdir sudah sampai pada taraf perkembangannja jang masak, dilandasi oleh pengalaman jang luas, sehingga tidak semudah itu dapat didorong ke belakang. Maka dalam Simposion ini Takdir berhasil dalam pengutaraannja bahwa suatu impasse sedang mentjekam Indonesia dibidang sastra dan kebudajaan pada umumnja. Ia berhasil membuktikan, bahwa Revolusi merupakan bantahan terhadap kebudajaan Pudjangga Baru. Dan 10 th kemudian, 1962, tidak lain dari Iwan Simatupang dengan tjerpennja Tegak Lurus Dengan Langit jang telah berdjasa dalam memberi bentuk pada pikiran Takdir ini sehingga mendjadi semakin djelas, bahwa Revolusi 45 tjumalah sadisme!

Sama sekali bukan sesuatu jg mengherankan, bila Iwan ini djuga jang pada th 1953, beberapa bulan setelah selesai Simposion melajangkan surat kepada Sticusa; sedia tandatangani sjarat apa pun djuga bila Sticusa mau undang gua ke Nederland. Sjarat2 apa jang telah ditandatangani oleh Iwan ini, tak ada jang tahu, ketjuali dia sendiri dan Sticusa, setidak2nja dia dapat undangan ke Nederland (1955). Dan sama sekali bukan sesuatu jang mengherankan, bila Iwan jang ini djuga, jang telah gondol beberapa puluhribu uang modal Pekan Teater, sesuai dengan pandangannja, bahwa Revolusi 45 hanjalah sadisme, karena itu harus dirubuhkan sambil mendapat keuntungan dari pekerdjaan ini.

Apakah sebabnja Takdir bisa punja sikap dan pandangan sedemikian negatif terhadap Revolusi 45 jang agung itu? Tidaklah sulit untuk menemukan sumbernja. Sudah sejak aktivita-budaja-nja jang pertama-tama, ia mengimpi dan berangan, berillusi tnt kemadjuan Indonesia jang tjepat, jang deras. Hanja peradaban dan kebudajaan Barat sadja mampu mempolai kemadjuan ini. Tak ada jang bisa mengatakan, bahwa impian, angan2 dan illusinja djahat, sebaliknja–sesuatu kewadjaran sadja bagi seorang mendeburkan darah patriotisme dlm dirinja. Apabila ia melakukan kekeliruan, maka ini ialah tidak atau kurang adanja kesungguhan pdnja untuk melakukan kekeliruan, maka ini ialah tidak atau kurang adanja kesungguhan pdnja untuk mengenal realita dari bangsanja sendiri plus kehidupannja. Ia seorang idealis jang menutup mata terhadap realita jang hidup, karena impiannja terlalu keras, terlalu indah, sedangkan kenjataan terlalu pahit, dangkal, lamban, dan serba mendjengkelkan. Langkah pemikiran selandjutnja bukan lagi suatu kekeliruan, tapi suatu kesalahan, karena ia hendak membangunkan impian dgn djalan meniadakan dan memunggungi realita itu sendiri dan karena kekagumannja pd Barat ia terimalah Barat itu sebagai ukur segala jang hidup pd bangsanja. Rekonstruksi membangunkan kuburan, sedangkan tjandi Prambanan diketjamnja sbg urgensi adalah membangunkan jang djustru hidup sekarang ini. Nampaknja ketjamannja ini revolusioner, kalau orang melupakan kenjataan lain, bahwa Takdir pulalah jang menjatakan bahwa penamaan “terjerambut” (atau ontworteld) baginja merupakan pujian! Takdir pulalah jang dg gagah2an mempelopori gerakan “guntungputus” dg masalampana [- lampaunja?].

Waktu revolusi mentjapai tarafnja jang panas, ia djustru pergi ke Nederland untuk menghadiri Kongres Filsafat (1945) sehingga djabatannja sebagai mahaguru di UI dibekukan. Dan tindakannja ini disamakan dengan tindakan Dr. Sumitro, sewaktu ikut menghadiri Kongres Havana sebagai penasihat delegasi Belanda, djuga ini terdjadi pada tahun panas2nja Revolusi.

Gugatan jang tertudju padanja mejebabkan Takdir dlm madjalah “Pembangunan,” 1947, berusaha membersihkan dirinja dengan bergajutan pada R.A. Kartini jang terus menerus dihormati, baik didjaman pendjajahan Belanda, Djepang, maupun semasa Revolusi itu, pdhal, bukankah Kartini mengandjurkan kerdja sama antara Pribumi dengan Belanda?

(more…)

0

Angkatan Muda Sekarang

May 15th, 2012 / / categories: Kronik PAT /

Angkatan Muda Sekarang

Pidato Pramoedya Ananta Toer Dalam Pelantikan Sebagai Anggota PRD Jakarta, 21 Maret 1999

ANGKATAN MUDA SEKARANG

Salam Demokrasi,

Sekarang ini, di tengah-tengah Angkatan Muda yang menggelora, sungguh saya merasa berbahagia. Inilah peristiwa terpenting dalam hidup saya, yang saya dambakan sejak muda: menyaksikan sendiri lahirnya Angkatan Muda sendiri yang tidak dibebani bombasme, rasional, korektif, kritis, dan yang semua itu dirangkum oleh ketegasan. Adanya sejumlah anggota PRD yang entah dimana rimbanya karena diculik, juga yang ketahuan rimbanya, di penjara, sebagai kurban permainan pengadilan model sekarang. Sekarang berada di tengah-tengah PRD yang beberapa diantaranya telah lolos dari penculikan. Malah saya sendiri adalah korban pertama penculikan 1959, hanya tidak pernah menjadi berita.

Saya menilai Angkatan Muda, maksud saya PRD, mempunyai kwalitas dengan nilai lebih dibandingkan dengan generasi- generasi sebelumnya. Langsung saja: sejak kanak-kanak oleh OrBa kalian dididik dengan kebohongan-kebohongan politis yang memalaikatkan OrBa dan mengibliskan semua lapisan masyarakat yang tidak membenarkannya. Dari sekolah dasar sampai universitas. Dan kalian telah mencampakkan kebohongan OrBa tersebut. Kalian kiri, artinya kalian berpihak kepada rakyat, lapisan bawah masyarakat. Tepat, karena sepanjang sejarah rakyat hanya makanan gurih bagi elit, kecuali semasa OrLa, karena dalam kurun ini adalah kekuatan politik yang mendampingi mereka. Tumbangnya OrLa berarti mereka dan tanah air menjadi jarahan kapitalisme multinasional bekerja sama dengan elit nasional sebagai herdernya. (more…)

0

Greg Poulgrain

May 15th, 2012 / / categories: Kronik PAT /

Greg Poulgrain

Oleh: Pramoedya Ananta Toer

Selamat datang pada Greg Poulgrain yang tanpa ragu turun memasuki sejarah modern Indonesia dengan tesisnya The Genesis of Malaysia Konfrontasi: Brunei and Indonesia, 1945-1965, sebuah hasil studi yang meluas dan terperinci.* Dengan karyanya orang lebih mudah dapat memahami masa peralihan dari apa yang dinamai era Orde Lama ke era Orde Baru, dua era yang bertentangan sudah pada azas dan semangatnya. Era pertama adalah era anti kolonialisme-imperialisme-kapitalisme dengan segala liku dan lekuk dengan berbagai pemain, yang mendukung dan mendongkel.

Era yang menggantikannya adalah edisi baru Opendeur-Politiek kolonial setelah bangkrutnya tanam paksa, sama-sama menghalau rakyat yang tak bernama dari tanah garapannya. Masuknya modal swasta dalam Opendeur-Politiek pada awalnya memang terutama di bidang perkebunan. Sumber-sumber air untuk minum peternakan-liar besar di Jawa Barat diracuni, sehingga peternakan-liar besar tumpas (wawancara dengan pensiunan pegawai pelabuhan Tanjung-priok, 1956). Dan, tanpa pernah ada catatan resmi atau pun tidak resmi tentangnya. Dengan demikian padang-padang penggembalaan dengan mudah dapat dikuasai modal asing. Penggusuran juga terjadi di Sumatra oleh para calok tanah yang waktu itu dinamai “residen tanah” alias pemburu konsesi (Sang Pemula, 1985, hlm. 261-262).

Bagi saya sendiri lenyapnya Konfrontasi dalam hubungan dengan sejarah modern Indonesia setelah meletusnya apa yang dinamai G30S, dan mengapa itu terjadi, telah mengusik saya sepanjang era Orde Baru ini. Kalau Konfrontasi toh disebut-sebut juga maknanya jadi berubah dan barang tentu menurut versi Orde Baru: dari Konfrontasi terhadap proyek British Malaysia menjadi Konfrontasi terhadap bangsa serumpun. Nehru, penemu dan pengembang nama Malaysia, tidak pernah menduga nama temuannya pernah menjadi sumber sengketa berdarah di Asia Tenggara. Pemelencengan makna Konfrontasi dapat diikuti dalam “Nostalgia Dua Serumpun”, Paron no. 26, 24 Agustus 1966, dan dalam “30 Tahun yang Lalu. Konfrontasi Malaysia Bisa Diselesaikan”, Kompas, 10 Agustus 1966.

Sudah sejak semula saya menduga, G30S tak lain sebuah mitos, yang sebenarnya tak lain dari metamorphosis anti-Konfrontasi pihak Inggris dan sekutunya, baik di luar mau pun di dalam Indonesia. Dan mengapa terjadi Konfrontasi? Dalam hal ini saya sependapat dengan A.M. Azahari (wawancara, 1996) bahwa Indonesia, di sini berarti Soekarno, terjebak oleh provokasi Inggris, dengan menggunakan ketegaran anti kolonialisme-imperialisme-kapitalisme Soekarno untuk menyingkirkan Soekarno sendiri.

Dan Inggris sendiri sudah berpengalaman memprovokasi Indonesia. Pertama tentu saja pertempuran Surabaya yang kemudian melahirkan Hari Pahlawan. Kedua dalam memprovokasi para pemuda di Sumatra Timur dengan berhasil melikwidasi para bangsawan wilayah tersebut. Apa yang kelak dinamai “revolusi sosial”, yang salah seorang kurbannya adalah penyair Amir Hamzah, ini sasarannya jelas: menghapus pengaruh Indonesia lewat para bangsawan Sumatra Timur dari koloni Inggris di Malaya, Singapura dan Kalimantan Utara, sebagaimana disebutkan juga oleh Greg Poulgrain. (more…)

0

Maaf Atas Nama Pengalaman

May 15th, 2012 / / categories: Kronik PAT /

Maaf Atas Nama Pengalaman

Jakarta, November 1991

Oleh: Pramoedya Ananta Toer

Sejak 17 Agustus 1945 aku menjadi warganegara Indonesia, sebagaimana halnya dengan puluhan juta orang penduduk Indonesia waktu itu. Waktu itu umurku 20. Tetapi aku sendiri berasal dari etnik Jawa, dan begitu dilahirkan dididik untuk menjadi orang Jawa, dibimbing oleh mekanisme sosial etnik ke arah ideal-ideal Jawa, budaya dan peradaban Jawa. Kekuatan pendidikan yang dominan dan massal adalah melalui sastra, lisan dan tulisan, panggung, musik dan nyayian, yang membawakan cuplikan-cuplikan dari Mahabharata: sebuah bangunan raksasa yang terdiri dari cerita falsafi dan tatasusila, acuan-acuan religi, dan dengan sendirinya resep-resep sosial dan politik. Enerzi, dayacipta, pergulatan, telah dikerahkan berabad, melahirkan candi-candi dan mythos tentang para raja yang sukses, dan mendesak dewa-dewa setempat menjadi dewa-dewa kampung. Untuk itu “jutaan” manusia sepanjang sejarah etnikku terbantai. Tentu saja tidak angka resmi bisa ditampilkan. Yang jelas, sejalan dengan pendapat pakar Cornell, Ben Anderson, klimaks Mahabharata adalah “mandi darah saudara-saudara sendiri”. Memang pada jamannya sendiri bangsa-bangsa lain juga pernah mengalami peradaban dan budaya ‘kampung’ demikian. Yang berhasil keluar dari kungkungannya, jadilah bangsa yang merajai dunia.

Pada awal abad 17 masyarakat Belanda menghimpun dana untuk membiayai pelayaran-pelayaran mencari rempah-rempah, melintasi sejumlah samudra dan menghampiri sejumlah benua. Di negeriku, beberapa belas tahun kemudian, tepatnya pada 1614, raja Jawa yang paling kuat dan berkuasa, raja pedalaman, generasi kedua dan raja ketiga Mataram, Sultan Agung, justru menghancurkan negara bandar dagang Suarabaya, hanya karena membutuhkan pengakuan atas kekuasaannya. Ironi histori Jawa termaktub di sini: pada waktu Belanda mengelilingi dunia mencari rempah-rempah, Surabaya suatu bandar transit rempah-rempah yang sama untuk konsumsi internasional dihancurkan oleh seorang raja pedalaman Jawa, Sultan Agung.

Mataram sendiri adalah kerajaan kuat kedua di Jawa yang menyingkiri laut karena tidak ingin menghadapi kedahsyatan Portugis di laut. Sultan Agung ini juga yang gagal total menghalau koloni kecil Belanda di Batavia pada 1629. Kekalahan itu membuat Mataram kehilangan Laut Jawa, laut pelayaran internasional pada masanya. Untuk menghilangkan malu yang diderita, untuk memperthankan kewibawaan Mataram, para pujangga etnik Jawa berceloteh, bahwa pendiri Mataram, ayah Sultan Agung, mempersunting puteri Laut Selatan (pulau Jawa), Nyi Roro Kidul. Untuk menyatakan, kata Prof. H. Resink, bahwa Mataram masih punya keterlibatan dengan laut.

Dalam kronik etnik Jawa, Sultan yang satu ini diagungkan begitu tinggi dengan membuang segala faktor yang memalukan. Juga dalam pengajaran sejarah dalam Republik Indonesia sekarang. Orang akan membelalak bila mengikuti materi tertulis orang Barat tentang dia. Sedang pendiri Mataram, Sutawijaya, dengan dalih ingkar janji sebagai didendangkan oleh para pujangga etnik Jawa, marak jadi raja setelah membunuh ayah angkat yang membesarkannya, yang memberinya fasilitas sebagai seorang pangeran. Kronik yang diwariskan pada kami tidak pernah ada yang menyinggung tentang nurani, yang nampaknya memang tak terdapat dalam pembendaharaan bahasa Jawa.

Diawali dengan kekalahan Sultan Agung, hilangnya kekuasaan atas jalur dagang di L. Jawa, beroperasinya kapal-kapal meriam Barat, golongan menengah Jawa, yang senyawa dengan pemilikan kapal dan pedagang antar-pulau serta internasional terhalau dari bandar-bandar dan tergiring ke pedalaman, menjadi mundur, dan terjatuh dalam kekuasaan satria pedalaman dan ikut mundur.

Namun para pujangga pengabdi sistim kekuasaan, menyingkirkan kenyataan yang menggejala ini. Setelah Sultan Agung marak, Mataram ke 4 justru bersahabat dengan Belanda. Para pujangga tetap tidak mengambil peduli. Nyai Roro Kidul, justru dibakukan sebagai kekasih setiap raja Mataram, generasi demi generasi, dikembangkan kekuasaannya sedemikain rupa sehinggga menjadi polisi. aneh tapi nyata bahwa semua ini terjadi sewaktu Jawa praktis mulai memeluk Islam. Penyebaran agama baru ini tidak disertai peradabannya sebagaimana halnya dengan hindusisme, karena praktis sebgai akibat sekunder dari terhalaunya para pedagang Islam dari jalur laut oleh kekuatan Barat yang Nasrani, kelanjutan dari penghalauan atas kekuasaan Arab di Semenanjung Iberia. Dapat dikatakan penyebaran Islam di Jawa adalah akibat sekunder dari gerakan Pan-Islamisme internasional pada jamannya.

Lebih mengherankan lagi bahwa pada waktu tulisan ini dibuat, Nyai Roro Kidul telah dianggap menjadi kenyataan. Sebuah hotel di pantai selatan Jawa Barat menyediakan kamar khusus untuk Dewi Laut Selatan tersebut. Bagaimana bisa terjadi suatu negara yang berideologi Pancasila, dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai silanya yang pertama menerima kehadiran seorang dewi laut, kekasih para raja Mataram. Para pujangga tidak pernah teringat bahwa dengan kekuasaan tanpa batas Dewi Laut Selatan, Mataram tidak pernah menang dalam konfrontasinya dengan kekuasaan Barat yang datang dari ujung dunia.

(more…)

0

Internasionale

April 23rd, 2012 / / categories: Uncategorized /

Internasionale

Bangunlah kaum jang terhina,
Bangunlah kaum jang lapar.
Kehendak jang mulja dalam dunia
Senantiasa tambah besar.
Lenjapkan adat dan faham tua
Kita Rakjat sedar-sedar.
Dunia sudah berganti rupa
Untuk kemenangan kita.
Perdjuangan penghabisan,
Kumpullah berlawan.
Dan Internasionale
Pastilah didunia.

Penerjemah: Ki Hadjar Dewantara

0

Kisah “Besar” Keluarga Toer

April 23rd, 2012 / / categories: Kronik PAT /

Kisah “Besar” Keluarga Toer

Sebagai karangan yang banyak bertumpu pada ingatan, memoar adalah ragam karya yang bergerak di antara dua kutub: sejarah dan sastra. Jika ingatan itu ditopang sekaligus dijaga ketat oleh catatan kejadian nyata, disusun mengikuti arus waktu yang bergerak kronologis, karangan itu akan menjadi (auto)-biografi penting. Jika ingatan tak harus tunduk sepenuhnya pada catatan ketat peristiwa sejarah, dan narasi disusun tak harus mengikuti alur waktu yang lurus, tak jarang bahkan membiarkan diri terseret oleh arus kesadaran yang berkelak-kelok, karangan itu bisa menjadi novel besar.

Memoar setebal 500 halaman ini memang disusun mengikuti arus waktu yang linier, tapi terasa ia agak menjauh dari “riwayat hidup” Pramoedya Ananta Toer, yang “seharusnya” menjadi pusat penceritaan dari awal hingga akhir. Pram memang tampil juga dalam karangan ini, tapi cukup sering ia hadir agak jauh di latar belakang. Kita harus menempuh sekitar 100 halaman untuk sampai pada momen-momen penting yang bisa mengoreksi, setidaknya memperkaya pemahaman, kita tentang Bung Pram.

Momen-momen penting itu antara lain adalah pertemuan Pram dengan Ayahandanya yang sekarat, tekadnya untuk membangun kembali rumah warisan yang terlantar, pilhannya pada keris pusaka ayahandanya saat terjadi pembagian pembagian warisan. Buat saya, kisah kecil ini makin mengubah kesan tentang Pram yang pendendam, yang tak bisa melupakan pelakuan ayahnya yang menyakitkan yang menganggapnya dungu dan harus mengulang sekolah. Kesan pendendam ini mencuat dalam prosa awal Pram sendiri, yang kemudian banyak dikutip dan disebarkan oleh sejumlah pengkaji Pram.

Kisah kecil lainnya seperti tekad Pram untuk menyekolahkan adik-adiknya dan merawat yang sakit, kegundahan Pram menumpang sementara di rumah adik ipar yang kurang ia suka, menunjukkan bahwa Bung Pram, meski punya cita-cita kebangsaan yang besar, memang hanya manusia biasa saja yang tak perlu ditakuti. Memang ada yang luar biasa ganjil jika pemerintah resmi dari sebuah negara besar yang punya angkatan bersenjata paling kuat di Asia Tenggara begitu takut pada seseorang, sehingga ia harus dicurigai dan diawasi terus, dan seluruh karyanya digolongkan sebagai karya terlarang. (more…)

0

Aceh dalam “Bumi Manusia”

April 23rd, 2012 / / categories: Kronik PAT /

Aceh dalam “Bumi Manusia”

oleh Teuku Kemal Fasya

Kompas, 21 April 2012.

 

Saya ingin ungkap ingatan atas sebuah wawancara tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Pramoedya Ananta Toer,  dari sebuah majalah mahasiswa UGM, Balairung, duabelas-tigabelas tahun lalu. Sastrawan besar Indonesia itu menghentak geram atas kekejaman rejim Soeharto. Yang membuat saya tercengang dari tokoh yang pernah mendapatkan penghargaan sastra Magsaysay itu adalah cara ia melihat kekejaman yang dilakukan rejim otoriter itu.

Pram, panggilannya, tidak menceritakan tentang pembantaian PKI dan pengikutnya pada tahun 1965 sebagai prahara kemanusiaan yang diakui oleh pengamat dan sejawaran politik sebagai yang paling besar dalam sejarah modern Indonesia (pada pertengahan 90-an, Taufik Ismail menerbitkan buku dengan judul Prahara Kebudayaan untuk ikut menabalkan Lekra sebagai underbouw PKI). Ia malah mengeja kekejaman Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, yang mulai terungkap di masa-masa akhir Soeharto berkuasa.

Dengan gelegar ia katakan republik ini sudah terkutuk menyakiti Aceh, daerah yang menjadi tonggak penting sejarah Nusantara. Saya memang tidak lagi ingat detil-detil sintagmatik wawancara sastrawan besar itu, tapi substansi pernyataannya itu bukan “terselip lidah”, karena ia juga mengulangi dalam beberapa kesempatan wawancara.

Saya pikir, ia tak mungkin asal puji. Karakter sebagai seorang penyair “sosialis-komunistik” yang teguh dan keras tak suka lempar puja-puji. Sastrawan kelahiran Blora 1925 ini terbukti pernah pula ditahan pada masa Soekarno. Ia memang sadar sejarah. “Keengganan kita berguru pada sejarah telah membuat kita terlempar pada keranjang sampah peradaban”, katanya suatu kali. Dalam beberapa novelnya, saya melihat kronika Aceh ada di dalamnya. Sebut saja Arus Balik (1995), novel yang cukup tebal, 700-an halaman, yang telah saya fotokopi di masa-masa pemerintahan Soeharto. Ia melintas dan mencatat sejarah Aceh di tengah arung pasang naik dan turun kerajaan-kerajaan Nusantara pada abad ke enam belas. Ia berbicara tentang puncak-puncak kejayaan kerajaan maritim sebelum “mitos Mataram” dibesar-besarkan kemudian. (more…)

bunga tabur terakhir

Catatan Buku: Bunga Tabur Terakhir “Cinta, Dendam, dan Karma di Balik Tragedi ‘65” karya GM. Sudarta

Tragedi ’65, Realitas dalam Fiksi GM. Sudarta

Oleh: Rama Prabu *)

 

Satu lagi bukti bahwa pembantaian di tahun 1965 itu ada, ditulis dalam bentuk cerita pendek oleh GM. Sudarta, rekontruksi sang karikaturis ulung ini membawa pembaca pada suasana tegang, nyaris sempurna dalam penggambaran realitas, diangkat dari kisah nyata, investigasi para korban dan sanak saudaranya. GMS melengkapi buku-buku baik fiksi maupun non fiksi yang telah lebih dulu hadir memberi testamennya. Saya tulis daftar panjang yang bisa diturunkan dari rak buku:  Kisah-kisah dari Tanah Merah (cerita digul cerita buru), Triramidjo;Perjalanan Jauh (kisah kehidupan sepasang pejuang), A.Ali Chanafiah & Salmiah Chanafiah (Pane); Kromo Kiwo (mereka yang tak pernah menyerah), Floriberta Aning Sriwahyuningtari; Lasmi, Nusya Kuswantin; Merajut Harkar, Putu Oka Sukanta; Aku Eks Tapol, Hersri Setiawan; Tragedi Kemanusiaan 1965-2005 (antologi puisi-cerpen-esai-curhat), LSP;Lobakan (kesenyapan gemuruh bali ’65), LKK; Balembangbu (kisah pahit seorang tahanan G30S), N.Syam.H; Suara di Balik Prahara (berbagi narasi tentang tragedi ’65), Baskara T Wardaya, SJ, et,al; Kidung untuk Korban (dari tutur sepuluh narasumber eks-tapol sala), Hersri Setiawan; Mematahkan Pewarisan Ingatan (wacana anti komunis dan politik rekonsiliasi pasca Soeharto), Budiawan; Palu Arit di Ladang Tebu, Hermawan Sulistyo; Penghancuran PKI, Olle Tornquist; Dalih Pembunuhan Masal, Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, John Rosa; Kemunculan Komunisme Indonesia, Ruth T.McVey; Lekra Tak Membakar Buku (Trilogi, Rhoma Dwi Aria Yuliantri & Muhidin M Dahlan; The Missing Link G30S (misteri Syam Kamaruzzaman dan Biro Chusus PKI), Agung Dwi Hartanto; Pledoi Kol. A. Latif (Soeharto Terlibat G30S); Tanah Merah Yang Merah (sebuah catatan sejarah), Koesalah Soebagyo Toer; Promeodya Ananta Toer dan Kenangan Buru, Rudolf Mrazek; Asep Sambodja Menulis (Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra). Dan masih banyak lagi buku yang merangkum kisah panjang tragedi dan perang dingin menghancurkan komunisme di Indonesia. Antusisasme ini berdampak baik, generasi yang tak mengalami langsung akan kian paham bahwa “dosa masa lalu” sebuah bangsa benar adanya.

Dalam cerpen “Orang-Orang Mati Yang Tidak Mau Masuk Kubur” dikisahkan “berpuluh-puluh orang diturunkan dari truk di tengah kebuh jati, dengan kedua ibu jarinya diikat kawat. Setelah ikatan dilepas, dibawah ancaman tentadangan dan pukulan pistol, setiap delapan orang diharuskan menggali sebuah lubang selebar dua meter. Begitu lubang selesai, mereka diharuskan berjongkok menghadap lubang.Dan tak lama kemudian…dentuman-dentuman pistol bergema.Kami memejamkan mata atau melengos ke samping. Hanya mas Parman yang tampak tegar melihat eksekusi ini”….”malam-malam seterusnya adalah malam kematian. Kehidupan hanya sebatas jangkauan lampu minyak yang tergantung di gardu ronda” pembantaian terhadap “antek partai terlarang (PKI)” tersebut pun ternyata menimbulkan perang saudara,…satu pragmen diceritakan “malaikat maut semakin menebarkan sayapnya. Perlawanan di pihak yang diburu bermunculan pula, mungkin lantaran terdesak.Satu malam, rumah Pak Karto, warga desa sebelah terbakar.Pak Karto adalah aktivis partai berlambang banteng, yang gencar memburu dan mendata siapa saja para anggota partai terlarang yang harus ditangkap. Dia diketemukan dalam keadaan…Ya Allah, hangus di bawah reruntuhan rumahnya, dan dua paku besar menancap di kiri dan kanan pelipisnya seperti tanduk! Konon yang melakukan adalah anaknya sendiri! Hatiku ngilu!””rupanya api dendam telah membakar seluruh rakyat. Penangkapan oleh warga sendiri terhadap warga yang dicurigai punya indikasi mulai merebak.Yang kurasakan kemudian adalah keadaan tak terkendali.Baku curiga, baku tuduh, baku fitnah, dan baku bantar antara warga sendiri”.

Dalam buku Dalih Pembunuhan Masal, Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto (2008), John Rosa menerangkan bahwa “Angkatan Darat mengendalikan dengan ketat keberadaan wartawan asing, melarang banyak dari mereka masuk Indonesia sejak Oktober 1965, dan membatasi gerak mereka yang berhasil tinggal atau menyelinap masuk agar tetap berada di Jakarta. Sebagian besar pemberitaan para wartawan yang berdiam di Jakarta terpusat pada manuver-manuver politik tingkat tinggi Presiden Sukarno, Jenderal Nasution, dan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan yang lain. Para juru bicara militer dengan sopan meyakinkan para wartawan bahwa pembunuhan apa pun yang terjadi adalah akibat kemarahan rakyat yang tak terkendali, bukan pembantaian yang diatur tentara. Dari cerita-cerita yang merembes ke Jakarta, para wartawan menduga-duga bahwa angka korban mati yang diumumkan Sukarno pada Januari 1966, yaitu 87.000, sangat jauh di bawah angka sebenarnya.Tetapi mereka tidak dapat memberitakan pembunuhan besar-besaran itu selengkap-lengkapnya sampai sesudah Angkatan Darat melonggarkan batasan-batasan bergerak pada Maret 1966.Skala pembunuhan mulai menjadi lebih jelas ketika wartawan dapat pergi ke daerah-daerah di luar Jakarta. Wartawan pertama yang melakukan penyelidikan, Stanley Karnow dari Washington Post, setelah melalui perjalanan selama dua pekan di seluruh Jawa dan Bali, memperkirakan setengah juta orang telah mati dibunuh. Seth King dari NewYork Times, pada Mei 1966, mengajukan angka perkiraan moderat, yaitu sebanyak 300.000 korban tewas. Seymour Topping, rekan Seth King dari koran yang sama, melakukan penyelidikan beberapa bulan kemudian dan menyimpulkan bahwa jumlah korban mati seluruhnya bahkan dapat lebih dari setengah juta orang. Ketiga koresponden asing itu memberitakan bahwa personil militer dan milisi sipil antikomunis terlibat dalam pembunuhan dan sering kali mereka melakukannya dengan cara-cara yang sistematik dan rahasia. Senafas dengan Rosa, Olle Tornquist juga menuliskan bahwa “peristiwa-peristiwa setelah Oktober 1965 adalah sesuatu yang tak dapat dimengerti. Soeharto dan Nasution memerintahkan pasukan yang setia untuk mencari, menangkap dan membunuh para pendukung kaum kiri. Mahasiswa, anak-anak dengan para orang tua kaya yang tak pernah dapat diraih oleh PKI, dikerahkan ke jalan-jalan. Berbagai kelompok Islam mulai melakukan perang sabil bersama kaum nasionalis konservatif. Sebagian melakukan pembalasan dendam terhadap kaum kiri yang hendak melakukan pembagian kembali tanah-tanah, sebagian untuk melenyapkan pesaing bisnis orang Tionghoa. PKI, gerakan nasionalis kiri, gerkan serikat buruh dan gerakan masa lainnya, seluruhnya dihancurkan. Antara setengah sampai satu juta orang dibunuh, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Sumatera Utara.

(more…)

SIDANG BUKU INDONESIA BUKU
AKU MENDAKWA HAMKA PLAGIAT-KARYA MUHIDIN M DAHLAN

Palagan Hamka dan Lentera “Pram”

Oleh: Rama Prabu (Dewantara Institute)

Aku Mendakwa Hampa Plagiat

Pecahnya peperangan Bintang Timur-“Lentera”/Pramoedya Ananta Toer sebagai salah satu panglimanya di medio 1962-1964 dengan HAMKA itu memercikan darah polemik baru berlabel Plagiasi pada karya Tenggelamnya Kapal van der Wijk. Dan ketika membaca buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat karya Muhidin M Dahlan (2011) kembali kita diingatkan bahwa prilaku tidak terpuji itu ternyata di Indonesia sudah dimulai jauh-jauh hari. Maka kita tak heran jika akhir-akhir ini banyak kasus Plagiat baik soal Cerpen sampai pada Karya Ilmiah di beberapa Universitas yang dilakukan oleh mereka yang ingin disebut penulis dan peneliti itu tidak terlepas dari lemahnya negara memberi batasan dan ukuran serta takaran dalam mendefinisi mana saduran, mencontek atau mencontoh hingga plagiat dalam beragam ukuran.
Seorang pemerhati sastra Indonesia A. Teeuw pernah menulis “bahwa di Indonesia dari dahulu masalah keorisinilan dalam penciptaan sastra belum ada; perbedaan antara pencipta, penyadur, penerjemah, penjiplak adalah perbedaan yang modern; menulis seringkali adalah menulis kembali dengan varian-varian yang terserah pada pengarang, dan yang penilaiannya terserah pada pendengar atau pembaca. Demikian pula naskah seringkali bersifat anonim, atau seandainya ada nama penulis tidak jelas apakah dia penulis “asli” atau “penyadur” atau pula “penyalin” pertanyaan semacam itu dianggap kurang relevan. Perkara ini sangat sensitif bahkan cenderung banyak yang akhirnya dianggap “kampanye hitam” untuk membunuh karir seseorang.
Tapi untuk soal Hamka, saya sependapat dengan buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat (AMHP) bahwa buku “ini menjadi semacam pengantar ala kadarnya untuk niat Pram dan kawan-kawan “Lentera” yang buru-buru sejarahnya disembelih oleh Gestok 1965 dan diantara mere di-Buru-kan. Buku ini menyambung niat yang tenggelam bersama kapal sejarah sastra Indonesia yang muda usia oleh politik dan fraksi militer yang kemudian diwariskan dengan perasaan was-was bergenerasi-gererasi”.
Dan yang paling penting dari buku ini adalah, Muhidin (Gus Muh) kembali mengingatkan pada khayalak bahwa pernah ada polemik/palagan dalam istilahnya yang harus diketahui oleh generasi sekarang.  Buku yang layak dan harus menjadi bacaan wajib para penggiat sastra ini salah satunya telah menggiring saya pribadi sebagai kolektor untuk kembali “gerilya” mencari semua buku-buku tentang Hamka dan buku yang Hamka tulis, ini salah satu dampak ikutan yang baik terlebih karena kepentingan Sidang Buku Indonesia Buku. Dan setelah membaca Magdalena (Terjemahan A.s. Alatas dan M. Junus Amir Hamzah) dari karya Majdulin Al-Manfaluthi dimana beliau terjemahkan dari Karya Alphonse Karr berjudul Sous les Tilleus, kemudian membaca naskah yang menjadi polemik Tenggelamnya Kapak van der Wijk –Hamka serta setelah mengengok detail-detail yang coba dibuktikan dalam buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat (Gus Muh) saya berkesimpulan bahwa karya Hamka ini memang terlalu naif dan terlalu tidak jujur jika Hamka tidak mengakui bahwa bukunya memang sangat dekat, bahkan bisa dikatakan lebih dekat dari urat lehernya karya terjemahan Manfaluthi. Untuk tidak merendahkan beliau yang diakui sebagai seorang agamawan dan pengarang dengan karya yang banyak,  saya lebih setuju buku Tenggelamnya Kapal van der Wijk itu dikategorikan sebagai saduran. Hamka telah mengakui dalam pendaluan untuk cetakan keempat bahwa “di dalam usia 31 tahun (1938), masa darah muda cepat alirnya dalam diri, dan khayal serta sentimen masih memenuhi jiwa, di waktu itulah “ilham” Tenggelamnya Kapan Van der Wijk ini mulai kususun dan dimuat berturut-turut dalam majalah yang kupimpin, Pedoman Masyarakat”. Sepertinya “ilham dan kata sentimen” inilah yang hendak  dijadikan pembela karangannya, walau dengan tulisannya (maka ketika membacanya kembali, jalan cerita dan perasaan pengarang, yang menjadi inti buku, tidaklah diubah-ubah. Sebab dia adalah puncak kekayaan jiwa yang dapat diciptakan di zaman muda dan di zaman sebelum suasana merdeka) Hamka seperti sedang menampar muka sendiri dari pada kata “bercermin air”.
Walau H.B Jassin menjadi salah satu pembela Hamka dengan mengatakan “pada Hamka ada pengaruh al-Manfaluthi. Ada garis-garis tema, plot, dan buah pikiran, tapi jelas bahwa Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri. Anasir pengalaman sendiri dan pengungkapannya sendir demikian kuat, hingga tak dapat orang bicara tentang jiplakan, kecuali kalau tiap hasil pengaruh mau dianggap jiplakan. Maka terlalu gegabah untuk menuduh Hamka Plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen”. Tapi dari tulian ini saya meyakini Jassin tak sepenuh hati membela dan mempelajari polemik yang terjadi, karena Jassin juga bukan orang yang memakai kacamata kuda dalam menilai walau dia bilang bahwa Hamka adalah gurunya, yang sangat di hormati. Dia sudah baca semua bukunya, ikuti dan menyimpan semua tulisannya dalam majalah dan surat kabar. Tapi dalam hal kesusastraan mengenai fungsi pengarang, kebebasan mencipta, dan fungsi karya sastra, antara Jassin dan Hamka ada beberapa perbedaan pendapat.
Satu kasus, kerasnya Jassin dalam membela perkara “Langit Makin Mendung” (Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia, H.B. Jassin, 1983) menilai bahwa Hamka mengatakan melihat cerita itu seolah-olah suatu laporan sejarah dan pelajaran agama, yang karena dan berbeda atau bertentangan dengan kenyataannya dan kaidah agama, ditolaknya. Hal ini bisa Jassin mengerti, karena beliau adalah orang yang telah memilih karier sebagai ahli agama dan mubalig. Ia tidak bisa lain dari keyakinannya dan kalau ia hendak menikmati suatu hasil karya, haruslah yang konform dengan keyakinannya. Ini adalah hak beliau. akan tetapi tak dapat dibantah bahwa imajinasi manusia bebas, sekalipunn ia mempunyai suatu keyakinan. Dan kebebasan imajinasi inilah yang hendak dikekang oleh Hamka pada ajaran-ajaran agama. Jassin  tidak berpendirian demikian. Sebagai manusia beragama, punya keyakinan. Tapi juga mengakui adanya imajinasi yang bebas.
Jassin pun mengatakan bahwa “Inilah bahayanya kalau pikiran kita sudah terarah dengan mutlak dalam menghadapi suatu karya. Kita kita hanya mencari apa yang cocok dengan kita dan tidak coba mengerti kemungkinan-kemungkinan lain dari dari apa yang kita kehendaki. Dengan demikian dunia ini tetap sempit saja. Inilah caranya orang mengganggap hasil sastra sebagai dogma.  Sebagai ulama, Hamka katanya metasa tersinggung oleh cerita “Langit Makin Mendung” dan menganggap dosa si pengarang begitu besar, sehingga sepantasnya ia dibunuh; halal darahnya menurut Islam, katanya. Hamka membantah hasil imajinasi pengatang dengan mengutip ayat-ayat dan hadis-hadis, seolah-olah pengarang adalah seorang ulama yang telah memberikan fatwa-fatwa agama yang keliru dan akan menyesatkan umat.
Jassin mengerangkan, bahwa pengarang bukanlah ulama, tapi orang awam dalam hal agama, namun dengan imajinasinya yang awam mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan. Kalau seorang penghuni planet Senen sampai pada imajinasi Tuhan dengan caranya sendiri, saya menaruh hormat. Bagi Hamka seorang pengarang haruslah menggambar manusia dan peristiwa-peristiwa sesuai dengan keyakinannya. Hamka memestikan tokoh-tokohnya menganut pikiran-pikiran dan melakukan perbuatan-perbuatan yang cocok dengan Hamka sebagai orang yang taat beragama. Maka akan didapatlah tokoh-tokoh yang stereotip, gagasan-gagasan yang stereotip, peristiwa-peristiwa yang stereotip, jalan pikiran yang stereotip, jalan cerita yang stereotip. Tokoh-tokohnya bukan tokoh-tokoh merdeka, tapi tokoh-tokoh yang telah terbelenggu oleh pikiran-pikiran pengarang atau pembaca yang menginginkan mereka demikian. Hamka hendak membelenggu imajinasi kepada akidah, meskipun dia tahu bahwa imajinasi sifatnya bebas. Imajinasi tidak terikat pada akidah, seperti mimpi tidak terikat kepada hukum lazim dalam kenyataan.
Dan buku AMHP menghimpunnya dengan cukup baik untuk soal bukti-bukti pragiat ini dari berbagai macam sudut pandang dan cara menakar, kegundahan Ki. Harkono Kamajaya (Pemimpin Umum UP. Indonesia) yang salah satu petinggi Majelis Luhur Tamansiswa yang menerbitkan cetakan ketiga  (1985) buku Magdalena yang mengatakan bahwa “polemik itu niscaya tidak akan mencapai penyelesaian, sebab orang tidak dapat membenarkan atau membantah tuduhan plagiat tersebut sebelum membaca buku Majdulin” dan buku AMHP melengkapi pembenaran ini.
Seharusnya Hamka pun melakukan hal yang sama seperti Manfaluthi ‘tawadhu” dalam berkarya, walau kata Teeuw “Teks adalah milik bersama, bebas untuk dimanipulasi, dicocokkan, diciptakan kembali, sesuai dengan keperluan dan kemampuan para penyusun yang menganggap dari pencipta (seringkali juga sekaligus menjadi penyanyi dan penggelarnya), dan dengan minat pendengar dan penonton. Tapi kosep teks sebagai milik pencipta pertamanya, yang harus dihormati dan diabadikan dalam bentuk aslinya, pada umumnya tidak diketahui di Indonesia. Manfaluthi mengatakan “saya menjaga jiwa aslinya sepenuh-penuhnya dan mengikat diri saya sekeras-kerasnya. Saya tidak menyimpang kecuali dalam membuang beberapa kalimat yang tidak penting, menambah beberapa kalimat yang terpaksa saya tambahkan karena kaharusan terjemahan, pengolahan, penyesuaian tujuan dan maksud-maksud tanpa mengurangi nilai aslinya atau keluar dari lingkungannya”.  Jadi saya kembali berharap kedepan tak ada lagi karya sastra yang kembar identik seperti yang terjadi pada karya Tenggelamnya Kapal Van der Wijk-Hamka dengan Majdulin/terjemahan Manfaluthi dari [Sous les Tilleus karya alphonse Karr] karena itu selain merendahkan proses penciptaan pada akhirnya juga menghinakan diri didepan sidang pembaca buku di seluruh dunia. ©

di publish juga oleh Oase kompas.com klik http://oase.kompas.com/read/2012/03/20/21431130/Palagan.Hamka.dan.Lentera.Pram.